Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel

Fakultas orang mata duitan....!!!

Monday, August 28, 2006

Al-Qura'an

MAJAZ DAN TA’WIL
1. Ibn Abbas dan Mujahid
Sebuah komentar “Seandainya Al-Qur'an disusun berdasarkan urutan turunnya (asbabun nuzul) maka akan membantu perumusan pengkajian Al-Qur'an, pentakqilan Al-Qur'an sesuai dengan Q.S. 3: 7
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Istilah majas pada awalnya dipakai untuk menjelaskan ungkapan, sedang takwil sejak awal sudah digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an, baik yang muhkam maupun yang mutsyabihat, yang menjadi wacana hebat, ditambah lagi unsur pergolakan politik. Hal ini sesuai dengan riwayat At-Thabari dari Ibn Abbas akan kaum khawarij yang iman pada ayat-ayat muhkam dan ingkar pada ayat-ayat yang mutyabihat.
Menurut At-Thabari sesuai asbabun nuzul, lafadh mutasyabihat mengandung makna “huruf a’ mutasyabihat” yang ada pada beberapa awal surat Al-Qur'an, seperti حم, ن, الم dan lain-lain. Dari segi pembentukan kata huruf tersebut tidak jelas maknanya, dari segi susunannya sekilas hanya sekedar rangkaian huruf saja, sehingga ada sekelompok Yahudi yang menafsiri sebagai simbol runtuhnya Islam. Qoul ini dhoif tapi diterima tafsirnya pun didasarkan pada qoul ini.
Kedua, riwayat Rabi’ perdebatan Nasrani Najran dengan Nabi sehingga turun Q.S. 3: 7, Q.S. 3: 103, Q.S. 3: 45, dimana Q.S. 3: 45.
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
Dijadikan dasar dan ditakwilkan, dibantah dengan ayat 3:7 dan 3:103 dan diperjelas dengan Q.S. 3: 59. pandangan mu’tazilah khususnya al-qadhi abu jabber tentang Q.S. 7: 45 yang menggunakan pendekatan majaz ayat 3: 59. ketiga ayat tersebut dimuat dalam surat Ali Imran dijadikan alasan turunnya ayat-ayat tentang muhkam mutasyabihat, yakni sesuai konteks ayat dan keberadaan. Kontekstual di Madinah antara dialog Nabi Saw dengan ahlul kitab. Ayat ini turun sebagai reaksi perdebatan Rasul dengan nasrani yang mentakwilkan Al-Qur'an agar Rasul menerima pendaptnya. Tapi ahli tafsir menerima sebagai senjata baik penyeranganbid’ah mereka. Hal ini sesuai dengan unkapan Qatadah yang diriwayatkan oleh At-Thabari menyebut “al-Haruniyyah dan Saba’iayh” (khawarij dan saba’iyah), yang berpegang pada ayat mutayabihat wacama muakham dan mutasyabihat dalam tataran, terkait politik, terutama pada duya hal penting: pertentangan makna muhkam dan mustasyabihat sendiri dan pertentangan makna ayat mustasyabihat, mengaca pada Q.S. 3: 7 dimana sebagian ulama menganggap sebagai ma’thuf ayat sebelumnya, sedangkan ulama lain menganggap berdiri sendiri dan kalimat baru (isti’raf). Hal ini bagi mu’tazilah karena sebagai urusan konsep takwil menurut mereka.
Riwayat ibn Abbas dari Jabbir bin Ri’ab tidak perlu diperdalam disamping dhaif juga memakai mutasyabihat sekedar sebagai muqaththa’ab. Akan logis bila riwayat ini menafsirkan kemungkinan mengetahui ayat-ayat mustasyabihat sehubungan Nabi Muhammad dan umatnya diberi keterbatasan ilmu. Oleh karena itu, ayat:
والرسخون فىالعلم يقولون امنابه
Harus dianggap isti’raf (kalimat baru).
Al-tahbari dari riwayat lain dari Ibn Abbas menjelaskan bahwa Muhkam adalah ayat-ayat tentang Nasikh, hahal, haram, hudud, daraidh dan sesuatu yang harus diimani dan diamalkan, sedang mutasyabihat adalah ayat-ayat mansukd, muqaddam muakkhar, amtsal, aqsam dan sesuatu yang harus diimani tapi tidak diamalkan. Contoh, Ibn Abbas adalah Q.S. 6: 151-153 dan Q.S. 17: 23.
Sedang Abu Ubaidah, alfara dan al-jahizh dan Abu Qutaibah menggolongkan ayat-ayat mutasyabihat tersebut ke dalam kategori majas, sedang al-Qadhi abdul Jabbar menjadikan majaz sebagai perangkat ta’wil.
Al-mujahid (murid ibn abbas) menyatakan al-muhkan adalah halal dan haram, sedang lainnya mutasyabihat semua berdasarkan Q.S. 47: 17, Q.S. 2: 26 dan Q.S. 6: 125. Tiga ayat ini oleh mu’tazilah dianggap sebagai mutasyabih, sedang konsep dari mujahid untuk mendorong pembaca pada penakwilan mu’tazilah Hasan Basri menjadikan ayat ini sebagai argumen perbuatan yang ditelaah. Hasan Basri yang ditelaah akal ada untung atau tidaknya untung.
Metode istimbat adalah pola mu’tazilah sebagai alat penakwilan seluru teks Al-Qur'an. m. ibn ja’far. Al-zubairi menakwilkan definisi muhkan sebagai ayat dengan ada hujjah. Al-mutasyabihat ayat yang tidak mesti kebenarannya dan sebagai ujian محراب. Konsep ini ditawarkan dperlukan dengan ‘aql “ala syar’i (akal di atas wahyu). Ibnu abbas juga menjalankan mutasyabihat dengan muqathah diperlukan pada Q.S. 3: 7. takwil didefinisikan sebagai balasan amal. Al-saddi mencari kapan terjadai Nasikh sehingga kalimat al-rashiqum-sebagai isti’raf dan setiap saat orang adalah al-roshiqum.

2. Al-Hasan Basri dan Muqatil Ibn Sulaiman
Muqotil dengan kitabnya “Al-asytab wa al-nadhari”. Hanya mengulas tafsir Abu abbas. Dalam kitab ini ada konsep “tajdid” (penyerupaan Allah Swt dengan makhluknya) dan ‘Irja (penanggalan hukuman) dan konsep yang ditelurkan mu’tazilah berdasarkan akal dan interprestasi teks. Asy’ariyah dengan mu’tazilah dalam tauhid tidak ada perbedaan, hanya “Rukyat” 9melihat) Allah Swt di hari kiamat. Justru Majasidah dan Dhahiriyah yang jadi musuh, karena mempersamakan Allah Swt dengan makhluk.
Tafsir Muqatil misal kata “Yaz”.
Tuffuni → tangan Q.S. 38: 75. Q.S. 5: 64, Q.S. 7: 108, bahkan a mempersamakan penafsiran (menyerahkan) bukan tajassus (mempersamakan bentuk, yang muda dan Yad Tuhan.
“Yad” sebagai mitsal (perumpamaan) terdaapt pada Q.S. 5: 64, Q.S. 17: 29, Q.S. 5: 64. kata Yad terjadi pertemuan antara takwil dan balaghah. Yad magludah (tangan melingkar) menunjukkan sifat kikir. Kata “Fauqa”, Q.S. 48; 18 diartikan “afdhal” (lebih baik).
Tangan Rasul di atas tangan mereka, menunjukkan arti tangan Allah Swt, karena Allah Swt berbeda dengan makhluk. Maka diartikan sebagai perjanjian dengan Allah Swt. Zamaksari lebih suka pakai istilah “mitsal” (perumpamaan) atau takhayul (imajinasi) bukan teknik.
Pada Q.S. 10; 26, al-husna dipahami sebagai surga. Q.S. 7: 143 “awwal’ diterjemahkan dari Allah Swt dapat dilihat di akhirat, hal ini berbeda dengan mu’tazilah yang menganggap tidak dapat melihat sama sekali. Lafadh “Ilm” oleh Muqatil ditakwili dengan melihat Q.S. 97: 21, Q.S. 3: 41, Q.S. 9: 16, ilmu diartikan mengetahui, Q.S. 2: 77, QS 2: 110, ilmu diartikan izin, pada QS 4: 166 ilmu disamakan “ra’a” dibahas lagi oleh Ubaidah, farra dan Mu’tazilah, Ilm: izin perlu dikaji lagi.
Nisyan (QS. 20: 115, QS 22: 14, QS 2: 237, QS 2: 106, diartikan “meninggalkan bukan lupa, lafadh atu huruf ن pada QS. 2: 106 Muqatil dibaca fathah bukan dhummah, Nansiha bukan Nunsiha. Semua tafsir Muqatil dan mutasyabihat (antro prodisme), Muqtil sebagai mur’jiah diterima dari marjial yang sunnah bukan surat, wahyu, bid’ah.
Muqatil tidak bisa di klasifikasikan sebagai Murji;ah yang keberadaannya dengan mu’tazilah karena Muqatil tidak menyebut itu untuk pendosa besar, atau mukmin yang berdosa kecil. Mu’tazilah tidak pernah menyatakan manusia yang berdosa besar itu tidak kekal kecuali doa besar. Sedang konsep itu telah disesuaikan.
Dengan dasar Q.S. 51: 56-57 Hasan Basri dalam karyannya “Al-Risalah Fi Al Qadr”, mengawali perdebatan teolog (aqidah) seputar takwil pertanggung jawaban manusia, ini dianggap sebagai cikal bakal pemikiran mu’tazilah. Tentu, ia tidak memakai muhkam, mutasyabihat dan majaz belum kenal. Menurut hasan bisri semua ayat adalah rohmat bukan pemutus harapan, seluruh ayat dilafadkan dengan lath (kasih sayang).
3. Abu Ubaidah dan Al-Fara’
Abu ubaidah adalah orang pertama yang menggunakan majaz. Contoh-contoh takqil abu ubaidah pada ayat mutasyabihat yang mirip khawarij dan mu’tazilah QS. 28: 88m majasnya “kecuali Dia” Q.S. 39: 56, tabirnya pada zat Allah Swt, QS 68: 92, takarannya apabila peperangan dan suatu masalah terungkap. Penggunaan majas ini sebagai penolakan penyerupaan Allah Swt dengan manusia, pada QS. 37: 12, Al-Fara’ membaca bab “Ajibtu” bukan “Ajibta”.
Muhkam Dan Al-Mutasyabihat Sebagai Paradigma Panakwilan
Al-Imam Al-Qosim Al-Rassi
Abu ubaidah, al-fara, hasan basri dan mufasir dizamannya, belum merumuskan prinsip-prinsip umum dan kaidah-kaidah untuk penkwilan mereka. Berbeda dengan mu’tazilah yang menyediakan akal sebagai dasar penakwilan mereka, meletakkan prinsip-prinsip umum, sesuai rasio, tauhid dan menolak argumen lawan. Mu’tazilah memahami muhkan adalah ayat yang dapat dicerna langsung oleh akal dengan melihat teksnya. Sedang Mutasyabihat harus ditakwilkan.
Ibn Qutaibah
Jika Al-Qur’an tidak dapat diketahui maksud kecuali dengan mengetahui ke-esaan keadilan dan semua sifat Allah dengan nalar. Al-Qur’an dan dalil sam’i dan di bawah akal untuk menyelesaikan bentuk dalil-dalil yang jelas maknanya dan yang sama di kembalikan pada prinsip kemaslahatan munfakat. Yang dibentuk oleh akal.
Al Qadhi memadukan indikatan kata (qoriah lafdziyah) indikatan nalar (qoriah aqliyyah) dan khitab (teks). Kithal menunjukkan pada hukum akal dan sam’i (wahyu). Untuk memperkuat keterkaitan ayat Al-Qur’an dan dalil akal dan keharusam kembali pada akal, terutama ayat yang tidak memberi pentunjuk dhalil. Al-Qodhi Abu al jabbar menolak semua muhkam dan mufasyabih. Masih masuk di tolak karna bahasa tidak tentu itu.
Dua ayat dasar Al Qodi Qs.Hud 11:1
الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
Yang seolah olah semua ayat itu muhkam. Dan Qs.hud 39:23.
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ
Dimana Allah mengatagorikan seluruh ayat-Nya mutasyabih. Sehingah ia memakai muhkam sebagaimu’jizat dan mutasyabih sebagai kesamaan semua ayat.
Al Qodhi meletakkan dalil Al Qur’an di bawah akal karena bahasa tidak dapat menunjukkan seatu makna kecuali setelah mengetahui keadaan pembicaranya.

Kritik-Kritik Terhadap Muhkam Mutasyabih
(Wacana perbandingan)
Drs. Abd Rahman Dahlan. M.A.
Di satu sisi, seluruh ayat Al-Qur’an. Bersifat muhkam (kelas, tegas, mutasyahbih). Dan sisi lain, seluruh Al-Qur’an adalah mutsyabih (serupa, samar, perlu penjelasan, tidak mudah dipahami). Ditinjau lain sebagai muhkam sebagian mutasyabih. Hal ini sesuai Firman Allah sendiri yang mensifati Al-Qur,an dengan tiga sifat.
1. Al-Qur;an bersifat muhkam (Qs. 11:1).
Maksud ayat ini Al-Qur’an adalah (benar) yang disusun sangat sistematik, mencapai puncak ketrampilan dan kebijaksanaan. Di dalamnya tidak ada perselisihan, semua perintah berisi kebaikan, petunjuk, keberkatan dan kemaslahatan, sedang laranganya berisi keburukan, kemadhorotan, tercela, jahat.
2. Al-Qur’an bersifat mutasyabih (QS. 39:23)
Maknanya serupa kebaikan, kebenaran, nilai petunjuk, memberi pengertian, menjernihkan akal, mensucikan hati mengajarkan, kata-katanya efiksien, rapi.
3. Al-Qur’an sebagai muhkam sebagai mutasyabih Hal ini berdasarkan QS 3:7.

Mannan Qatthan.
وقد تاء هذه الرسول الدينية فىاكثر من موضع باالقرأن مع اختلاف اللفضا واصبارة والسلوب الاان معناها عكون واحدا, فيشبه بغضهاالرخى ويوافقه معنى رون تناقضى اماماعداتلك الاصول من فروع الدين فإن فى اياتهامن الصحوم والاشتباه مايفسح المجال امام المجتسهدنى الرسخنى فىالعلم حتى يراوهاالى المحكم ببناه الفروع على الاصول, والجزئيات على المكليات, وان راغت بها قلوب اصحاب الهوى- وبهذاالاحكم فىالاصول والعحوم فى الفروع كان السلام ريراالانسانية الحالد الوى يكفل لهاخيرالذين والاخرة على حي العصوراوترتهان.
Pratek-pratek agama tersebut dibeberapa tempat dalam Al-Qur’an terkadang datang dengan lafadh, uslab (gaya bahan) yang berbeda-beda tapi maknanya tetap satu. Maka sebangan nya serupa dengan sebagian yang lain tetapi maknanya cocok dan serasi. Tak adakodraktif yang memberikan kepada yang tegas maksudnya (muhkam). Dengan cara mengembalikan masalah cabang kepada masalah pokok dan yang bersifat partical (jariyah) kesifat univefisal (kuliyah). Sementara itu beberapa kata memperkuatkan hasil.

Jalaludhin Asyayuthy Asy Syafi’i
وسياءتى قرييازيادة على ذلك قال الطبى المرار بالمكم مااتصح معناه والمنشابه بخلافه لان اللفظ الؤى يقبل معنى اماان يحتمل غيره اولا, حقيه المنشابه ل (موالذى اشارالي فىالحديث) كابتلاء لبدت باراه لسبادة كالحكيم (رواصفق كتاياالح.
Dari beberapa pendapat jelas pada dasarnya sama dalam pemberian Ta’rif Muhkam dan mutasyabih .hanya metode, histropologis dan sudut padang yang berbeda sehingga menimbulkan penafsiran, takwil yang berbeda. Di satu sisi ada yang untuk sekedar mengkiaskan sehingga kembali pada hukum ayat yang muhkam, disisi lain menggali dari konteks filologis, majas, sehingga menimbulkan ungkapan dan makna baru. Di satu sisi akal tunduk pada wahyu dan sifat menakwili disisi lain seperti mu’tazilah akal diletakkan di atas wahyu yang tafsir yang dihasilkan pun berbeda. Namun pada dasarnya satu.